27 Desember 2014

Biar Murai Batu Anda Cepat Ngeplong

Banyak yang bertanya pada saya tentang cara agar burung murai batu cepat ngeplong. "Ngeplong" adalah suara murai batu yang keras, tembus, bervolume, dan berpower. Berbeda dengan suara "ngriwik" yang terdengar pelan dan tanpa power, alias hanya kicauan bervolume rendah.

Nah, langsung saja, inilah caranya, silahkan disesuaikan dengan burung Murai Batu anda karena tentu saja setiap burung memiliki karakter berbeda:

  1. Pukul 07.00 pagi, sebelum burung dimandikan, angin-anginkan burung terlebih dahulu.
  2. Setiap hari bersihkan kandang, ganti atau tambahkan makanan dan minuman. 
  3. Berikan Jangkrik 2-4 ekor pada cepuk EF (mangkuk),  jangan pernah memberikan Jangkrik secara langsung pada burung.
  4. Penjemuran dapat dilakukan selama 1-2 jam setiap hari, mulai pukul 08.00-11.00 WIB. Selama penjemuran, sebaiknya burung tidak melihat burung sejenis.
  5. Setelah dijemur, angin-anginkan kembali burung tersebut diteras selama 10 menit.
  6. Siang hari sampai sore sekitar pukul jam 10.00-15.00 WIB, burung dapat diperdengarkan suara master atau burung-burung master.
  7. Jam 15.30 burung diangin-anginkan kembali di teras, boleh dimandikan lagi bila perlu.
  8. Berikan Jangkrik 2 ekor pada cepuk EF.
  9. Jam 18.00 burung dapat kembali di perdengarkan suara master burung selama waktu istirahat sampai pagi hari.

Penangkaran Murai Batu Sistem Poligami


Selama ini penangkaran burung dengan sistem poligami, yakni satu jantan untuk beberapa betina sebagai pasangan, banyak diterapkan pada beberapa burung jenis finch seperti kenari atau blacktroath. Namun penangkaran murai batu dengan sistem poligami, yang tergolong sukses luar biasa antara lain punya Om Didik Supriyanto dengan penangkaran RR BF-nya di Gresik Jawa Timur.

Ketika saya berkunjung untuk kedua kalinya ke penangkaran Om Didik, Minggu 2 Mei 2010, bertepatan dengan event lomba burung Phonska Cup di GOR Tri Darma Petrokimia, kandang breedingnya sudah bertambah banyak dan besar. Kali pertama saya ke sana setahun lalu, kandang penangkarannya baru 4 petak. Sekarang sudah ada 10 petak.Dan yang luar biasa adalah sistem poligami dalam breeding murai batu yang diterapkannya. Kandang penangkaran 10 petak itu, dia isi dengan 10 murai batu betina dan dua pejantan. Untuk pejantan murai batu ekor panjang yang dia namai  Mr A (pada tulisan terdahulu tertulis LT, kemudian ada ralat disampaikan Om Didik) tersedia enam ekor murai batu betina. Sedangkan untuk murai batu yang bernama NS (Night Shadow) tersedia 4 betina. Hasil breeding dari dua pejantan dan 10 betina itu, per bulan sekitar 25 ekor anakan murai batu karena rata-rata anakan per sekali penetasan satu indukan betina berisi dua atau tiga ekor anakan. Sangat-sangat menggiurkan….Namun sebagaimana kemudian disampaikan Om Didik, tujuan breeding dengan sistem poligami ini memang tidak semata-mata mengejar keuntungan. Dia melakukan hal itu untuk mencari “betina seperti apa” yang bisa menurunkan “anakan dengan karakter seperti apa”. Tentunya hal itu bertujuan memahami lagi pewarisan karakter atau sifat  dan  pewarisan struktur tubuh pada murai batu. 


Dengan mengetahui pola pewarisan karakter atau sifat  dan  pewarisan struktur tubuh murai batu, diharapkan pada akhirnya nanti bisa dihasilkan anakan-anakan murai batu dengan body, volume suara, karakter dan gaya tarung yang diinginkan.Bagaimana hal itu bisa dilakukan? Sebentar ceritanya… Berangkat dari Solo pada Sabtu 1 Mei 2010, saya memang berniat “menengok” breeding Om Didik. Namun karena keberangkatan saya ke Gresik juga atas ajakan Om Arif Darma yang juga penghobi burung, maka Sabtu malam pun ikut numpang tidur dulu di rumah Om Arif di Gubeng Kertajaya, Surabaya. Bahkan pada Sabtu sore, sempat nonton Latber di Dewa 99. Sore hari itu juga sempat kencan untuk ketemuan dengan Om Bobo KM (Darwan Tanujaya) dan pertemuan dengan Om Bobo berlangsung di rumah Om Arif pada Minggu sore sepulang dari Gresik. Ya biasa, ketemuan dengan sesama penghobi burung ya ngobrol soal burung. (Terima kasih untuk Om Arif dan Mbak Devi atas kesediaan menerima saya dan juga terima kasih kepada Om Bobo yang menyempatkan diri untuk ramai ngobrol bersama saya).


Sistem Poligami

Deretan kandang penangkaran RR BF.

Hal yang utama yang ingin saya lihat di penangkaran Om Didik adalah anakan-anakan Night Shadow (NS) karena murai batu ini kebetulan berasal dari seeorang teman di Solo yang kemudian ditransfer Om Didik. Meski relatif masih muda, sebelum berpindah tangan, NS ini sudah beberapa kali mendapat predikat jawara di event lomba di Solo. Hanya karena terforsir, burung ini jadi drop. Bukan hanya menjadi “bisu”, burung ini juga ciak bulu (suka makan bulu sayap dan pinggul). Baru setelah sekitar dua kali masa mabung dengan perawatan ekstra, burung ini kembali menampilkan peforma jawaranya. Setelah terbukti mampu menunjukkan tajinya di event lomba, NS segera dikandangkan sebagai pejantan breeding RRBF. Dan sekarang sudah beranak pinak dengan 4 betina sekaligus…



Salah satu "kamar" penangkaran RRBF.

Penangkaran murai batu RRBF ini secara umum sama dengan penangkaran murai batu lainnya. Yang membedakan adalah sistem poligami yang diterapkannya. Dengan sistem poligami ini, antar kandang penangkaran diberi pintu yang bisa dibuka dan tutup sebagai “jalan tembus” si jantan menuju “kamar-kamar” para betina.



Wadah pakan dan air minum rancangan ala RRBF.

Teknisnya, pejantan pilihan dalam kondisi birahi yang ditandai dengan suaranya yang gacor setiap saat, dimasukkan ke satu kandang betina yang juga sedang birahi. Tanda betina birahi adalah selalu bersiul-siul ngeplong dan untuk betina tertentu malah juga ngerol. Dalam kondisi sama-sama birahi, keduanya akan segera kawin. Setelah dicampur selama dua tiga hari dengan melakukan perkawinan 2-3 kali sehari, si betina akan segera bertelor (selama masa perkawinan, si betina sudah menyusun sarang). Ketika betina sudah mulai bertelor dan mengeram, si jantan dipindah ke “kamar lain” melalui jalan tembus yang memang sudah disiapkan (lihat gambar “jalan tembus” tersebut).




Sisi satu dan dua jendela antar ruangan. Melalui jendela ini, si jantan diberi akses langsung ke "kamar" betina lain. Jendela dibuat sedemikian rupa sehingga ketika mau memindah jantan, hanya tinggal mengangkat penutup dengan model sliding. Si jantan akan segera pindah kamar begitu jendela ini diangkat.

Setelah si jantan masuk ke kemar betina lain, tak lama kemudian akan terjadi perkawinan lagi. Dan penyampuran itu berlangsung selama 2-3 hari. Begitu si betina mulai bertelor dan mengeram, di jantan dipindah kamar lagi ke ruangan “isteri” lainnya begitu seterusnya cerita berulang. Bagaimana jika ada betina yang sedang masuk masa mabung. “Ya kita ganti dengan betina lain yang siap, kan kita punya stok betina yang sudah siap kawin juga,” kata Om Didik.



Si betina menyiapkan pakan untuk anak-anaknya sementara suami pergi ke "kamar" madunya hehehe


Lantas, kalau si jantan yang mabung, apakah para betinanya berhenti berproduksi? “Hahaha, yang kita ganti ya si jantannya,” jawab Om Didik mantap. Oho ho ho hooo… makanya tidak mengherankan kalau di RRBF selain ada murai batu pejantan dan betina yang sedang ditangkarkan, ada juga beberapa murai batu jantan dan betina yang “nganggur” dari menjalankan tugas di kandang penangkaran. Ternyata inilah pejantan-pejantan dan para betina yang siap “melaksanakan tugas” ketika pejantan atau betina di kandang penangkaran memasuki masa mabung.


Kalau Anda belum melihat sendiri penangkaran RRBF, barangkali Anda tidak akan percaya dengan apa yang Om Kicau tulis. Tetapi itulah faktanya, bahwa penangkaran murai batu dengan sistem poligami bisa dijalankan di sana. Dari 10 kandang penangkaran itu, dihasilkan antara 20 sampai 30 ekor anakan setiap bulannya. Tetapi sebentar… meski produksinya tergolong tinggi, kita jangan berharap bisa membeli anakan MB dari sana setiap saat. Kenapa? Kita harus indent dulu karena semua anakan yang bahkan belum menetas, sudah dipesan orang. Om Kicau saja yang cukup beruntung karena sepulang dari RRBF bisa menggondol seekor anakan murai batu jantan yang sebenarnya simpanan tuan rumah dan empat ekor anakan betina, hehehe….

 
Beberapa koleksi anakan dan indukan RRBF.
* ( Sumber Artikel ) 

Pemberian Pakan Piyik Murai Batu

 

Paling tidak ada dua cara kebijakan pangan dan pakan piyikan, yaitu :
  1. Piyikan diangkat sekitar umur 7 hari kemudian diloloh oleh peternak dengan komposisi pakan antara lain : adonan pur dan kroto yang dihaluskan dengan air, potongan2 jangkrik kecil, cacing yang dihaluskan, vitamin, dll. Tujuan dari cara ini adalah agar produksi menjadi lebih cepat dan piyikan menjadi jinak
  2. Piyikan diasuh oleh indukan sampai kurang-lebih 1 bulan. Di sini piyikan diloloh, diasuh, dan dilatih oleh induk nya sampai bisa mandiri. Alasan dari cara ini antara lain agar piyikan tumbuh mirip dengan di alam nya.
Kebijakan pangan dan pakan piyikan dapat mengkombinasikan dua cara di atas yaitu :
piyikan diasuh oleh induknya sampai bisa makan sendiri dan belajar terbang. Kurang lebih umur 2 minggu piyikan sudah bisa makan sendiri dan sudah bisa terbang. Tujuannya agar tidak terlalu repot meloloh, burung tidak menjadi jinak dan juga tidak menjadi liar seperti tangkapan hutan.


Setelah diangkat dari kandang, piyikan dimasukan dalam kandang soliter selama 2 minggu untuk penyesuaian. Setelah itu dimasukan dalam kandang yang agak besar (1m X 40cm X 50 cm). Selama dalam perawatan ini piyikan diberi makan full EF yang terdiri dari Jangkrik, kroto, cacing. Pemberian vitamin dicampur dengan air minum. Sengaja dilatih makan voor sampai dengan umur 1 bulan. 

Dengan cara ini diharapkan piyikan dapat tumbuh sehat, lincah, tidak jinak dan tidak liar.

Cara Menjodohkan Murai Batu


Meski saat ini semakin banyak saja orang yang mengeluti usaha ternak murai batu, tetapi prospek ke depannya tetap bagus. Hal ini disebabkan stok pasokan murai batu dari hutan mulai menipis karena terus dikuras, sementara peminat burung kicauan semakin hari semakin banyak saja. Pada saat yang sama, banyak penghobi yang tidak sabar untuk merawat murai hasil tangkapan hutan karena lama jinaknya, dan karenanya harus menunggu setahun dua tahun untuk menikmati burungnya secara maksimal, apalagi untuk dibawa ke arena lomba.

Sementara anakan murai batu dari hasil penangkaran ternak murai batu, selain kita bisa memilih anakan dari indukan-indukan tertentu yang kita sukai, entah karena suaranya atau karena postur tubuhnya, juga cepat bunyi. Bahkan ketika masih trotolpun sudah mulai bisa dinikmati ngriwikannya. Selepas mabung, biasanya murai batu hasil tangkaran dengan indukan yang bagus sudah mulai ngerol dan bahkan ada yang sudah siap masuk arena lomba.

Untuk yang menggeluti usaha ternak murai batu, kondisi ini memang menguntungkan. Dan sejauh ini, tidak pernah ada cerita anakan murai batu harganya jatuh. Minimal bertahan tetapi kecenderungannya naik terus. Apakah dengan banyaknya penangkaran nanti tidak akan membuat harga burung murai batu jatuh di pasaran? Saya yakin tidak. Sebab, semakin hari semakin banyak orang yang mencari anakan-anakan murai batu dari indukan bagus, dan para penangkarpun akan harus berlomba untuk mencari indukan bagus.

Artinya, kalau kita sudah bisa menangkar dengan indukan yang kualitasnya “biasa saja”, tentu akan terpacu untuk mencari indukan dengan kualitas bagus. Artinya, pemburu murai batu hasil tangkaran tidak hanya penghobi tetapi juga penangkar yang sudah mapan atau para penangkar pemula.
Berikut Tips cara penjodohan murai batu ala Wak Haji Padepokan Gamprit.
  • Pilih indukan murai batu jantan yang sudah gacor dan sudah siap ditangkarkan (sebaiknya usia lebih dari 2 tahun).
  • Siapkan indukan betina murai batu yang sudah siap.
  • Siapkan kandang dengan perlengkapan yang diperlukan (bahan sarang letakkan di dasar kandang, glodokan atau kotak buat sarang dll, maaf tidak dibahas satu-persatu karena diasumsikan sudah memaham
  • Untuk penjodohan sebaiknya dilakukan hari libur (Sabtu/Minggu) dengan pemikiran kita bisa memantau kondisi burung bila belum berjodoh dan burung berkelahi.
  • Masukkan indukan betina ke kandang breeding, usahakan pagi hari. Dengan tujuan agar betina murai batu bisa mengenal lingkungan terlebih dahulu dan bisa mencari perlindungan bila disatukan dengan indukan jantan. Jangan lupa beri makanan dulu supaya tidak kelaparan jika dikejar-kejar yang jantan.
  • Siapkan alat penyemprot yang sudah diisi air  (seperti alat semprot yang biasa untuk menyemprot memandikan burung).
  • Sekitar 2 jam kemudian baru masukkan indukan jantannya, dan perhatikan dengan seksama. Biasanya si jantan akan segera menyerang si betina dan saling mencekram, bila hal ini terjadi semprot si jantan dengan semprotan yang sudah kita sediakan sampai kuyup. Lakukan hal ini bila si jantan mulai menyerang lagi. Biasanya untuk jantan yang galak akan selalu menyerang betinanya ketika betinanya bergerak dan sebaliknya ketika betinanya diam si jantan juga akan diam. Nah untuk itu perhatikan dengan seksama dan semprot jantannya bila si jantan menyerang betina. Kuncinya adalah ketika jantannya basah kuyup dia akan sibuk merapihkan bulunya dan tidak akan galak lagi seperti ketika dia dalam keadaan kering. Lakukan hal tersebut secara sabar dan berulang sampai jantan tidak menyerang lagi, untuk hal ini kemungkinan anda akan beruntung karena kurang dari 5 menit kadang si jantan berubah tidak menjadi galak lagi dan bisa ditinggal.
  • Terkait trik nomor 7 yang merupakan trik kunci tersebut adalah, biasanya kedua pasangan belum jadi itu akan tetap berkelahi ketika berebut makanan, untuk hal tersebut mohon tetap waspada dan berikan porsi makanan terutama jangkrik dengan porsi yang lebih banyak.
  • Jika point No. 7 dan No. 8 tidak berhasil, maka sebaiknya indukan dipisah kembali dan bisa dicoba 1 minggu kemudian dengan menambah EF masing-masing agar cepat birahi.

Trik ini tidak dapat menjadi acuan baku dan butuh kreativitas dan kesabaran, namun trik ini juga sudah teruji untuk mejodohkan beberapa murai batu dan anis kembang, anis merah dan kacer di Padepokan Gamprit.

Bila kita beruntung maka jangan heran bila anda mendapati burung sudah jodoh tidak lebih dari 5 menit saja.
* ( Sumber Artikel )

Rahasia Pesugihan Murai Batu

Sebelum membaca lebih jauh, jangan berpikir macam-macam ya... hehe. Mencari kekayaan itu tidak seperti sulapan, bim salabim terus jadi kaya. Tapi kekayaan perlu dicari dengan jalan yang halal, kerja keras, dan kejujuran. Kalau itu dilakukan, insyaallah dapat juga.

Nah, ini saya mau kasih tip mencari pesugihan dengan beternak burung Murai. Tentu saja, kalau beternak, Anda mendapat untung dari menjual anakannya. Nah, ini dia tip-tipsnya.

Memilih Calon Indukan Murai Batu

Hal pertama yang perlu dipersiapkan adalah memilih indukan Jantan dan Betina yang berkualitas. Ukuran tentang kualitas dapat bermacam-macam alasan dan motivasi serta tujuan mengembang-biakan burung tersebut. Tapi sebagai dasar utama pemilihan indukan yang berkualitas adalah melihat dari gen indukan tersebut. Oleh karena itu dapat dipertimbangkan tujuan dan motivasi penangkaran sbb:


Indukan Jantan


Indukan Betina

1. Tujuan Untuk Kompetisi (Lomba) Burung Berkicau.

Cari gen indukan jantan yang punya prospek juara. Biasanya burung yang telah mendapat predikat juara disuatu perlombaan besar merupakan acuan calon indukan yang berkualitas. Walaupun acuan ini tidak mutlak dilakukan, tetapi paling tidak sudah mempunyai modal sebagai indukan yang baik, kendalanya barangkali adalah masalah harganya yang cukup tinggi.

Untuk mengatasi hal tersebut di atas, cari alternatif lain yang relatif lebih mudah. Caranya dengan mencari calon indukan yang mempunyai prospek yang baik, walaupun belum pernah juara atau diperlombakan. Umumnya indukan yang baik adalah yang bertipe suara keras, pintar menirukan suara burung lain, mempunyai tonjolan-tonjolan suara yang khas, misalnya tembakan-tembakan, ngerol dan variasi suara. Serta performa dan penampilan yang baik saat membawakan irama lagu.

Setelah menentukan indukan Jantan, langkah selanjutnya adalah mencari indukan Betina yang berkualitas. Ciri-ciri fisiknya kurang lebih sama dengan indukan Jantan. Indukan Betina juga harus dicari yang suaranya merdu dan berpostur baik, mempunyai ekor yang cukup panjang untuk ukuran murai batu betina. Burung yang akan dijodohkan sebaiknya hewan yang dari sub-spesies yang sama. Ini jauh lebih sulit lagi, karena jarang sekali diperdagangkan indukan murai batu betina yang baik. Mayoritas pedagang menjual murai batu berjenis kelamin Jantan. Alternatif yang termudah dengan mendatangi rumah-rumah penangkaran murai batu dan memesannya terlebih dahulu (cara ini biasanya lama di dapat, karena pemesannya juga banyak).
 

2. Tujuan Untuk Sekedar Menangkarkan Saja.

Cara ini biasanya dilakukan oleh para hobbies, karena pertimbangan melestarikan kelangsungan hidup murai batu saja. Jenis yang ditangkarkan murai batu dari sub-spesies apa saja.
 

Mempersiapkan Penjodohan Burung Murai Batu

Setelah dipilih calon-calon indukan yang baik, langkah pertama adalah dengan memperkenalkan suara/kicauan indukan Jantan dan indukan Betina terlebih dahulu. Caranya dengan menempatkan kedua burung tersebut dalam sangkar gantung yang terpisah. Usahakan berada dalam satu area agar suara/kicauan mereka dapat saling terdengar. Usahakan satu sama lain tidak diperlihatkan terlebih dahulu. Disini fungsi kain penutup sangkar (kerodong) berperan. Setelah terjadi saling sahutan, biarkan sampai irama kicauan mereka seirama. (biasanya diperlukan waktu sekitar 2 sampai 3 hari, tetapi ini juga tidak mutlak, tergantung kondisi dilapangan). Dalam kondisi ini dianjurkan untuk memberian pakan hidup dan nutrisi yang cukup agar burung mencapai puncak birahi, sehingga mempermudah proses penjodohan. (Mengenai pakan hidup dan nutrisi akan dibahas dalam artikel terpisah).


Proses Penjodohan Burung Murai Batu

Setelah ada keseimbangan irama kicauan diantara mereka, pertemukan mereka dengan tahapan gradual sbb:
  1. Buka masing-masing kerodong dengan jarak antara kedua sangkar berjauhan + 4 meter. Jangan terburu-buru untuk langsung mempertemukan mereka. Karena indukan Jantan dapat menyerang bahkan dapat membunuh indukan Betina. Kegiatan menjodohkan ini akan berlangsung berhari-hari, bahkan dalam hitungan minggu.
  2. Setelah proses ini berjalan dengan baik dan terjadi kemajuan satu sama lain, tempatkan sangkar lebih dekat lagi. Misalnya persempit jarak sangkar mereka menjadi 1 meter – 2 meter. Biasanya kalo kedua burung sudah saling cocok, Individu Jantan akan memperlihatkan bahasa tubuh, seperti mengibas-kibaskan ekornya dan menampilkan suara yang merdu untuk menarik perhatian individu betina.
  3. Jika reaksi indukan betina hanya berdiam diri di atas tangkringan saja, itu menandakan ia belum siap untuk kawin. Proses ini membutuhkan kesabaran.
  4. Jika reaksi indukan betina mengambil posisi membungkuk dan melebarkan kedua sayapnya, itu menandakan is sudah benar-benar siap untuk kawin.
  5. Jika keadaan seperti point d di atas, segera masukkan kedua indukan dalam kandang penangkaran yang besar. Keluarkan betina dari dalam sangkar, sedangkan indukan Jantan usahakan masih didalam sangkar yang digantung di dalam kandang besar. Biarkan proses penjodohan ini berlanjut sampai indukan Betina benar-benar siap untuk dikawinkan. Biasanya indukan betina akan sering hinggap disekitar sangkar indukan Jantan.
  6. Setelah fase penjodohan memperlihatkan kemajuan yang baik, anda tidak perlu khawatir untuk mengeluarkan indukan Jantan dari sangkar gantung.
Dalam beberapa kejadian, jika burung telah ditempatkan bersama-sama, mereka akan cepat melakukan aktifitas perkawinan. Setelah ini berlangsung, indukan betina akan membangun sarangnya dalam waktu sehari dan akan mulai bertelur pertama kali setelah hari-hari berikutnya. Telur pertama, kedua dan ketiga biasanya merupakan telur yang tidak berproduksi/tidak menetas (infertilitas).


Betina Murai Batu menyusun sarang

Seringkali, jika kedua pasangan memasuki masa reproduksi, perkawinan tidak dilangsungkan secara cepat (tidak terburu-buru), sampai indukan Jantan benar-benar menerima indukan betina setelah terlebih dahulu terjadi proses penjodohan. Indukan Jantan akan tampil atraktif dan bernyanyi merdu di depan indukan Jantan, seolah olah ingin mengatakan bahwa saya seorang gentlemen. Ia juga akan memeriksa kotak sarang.

Ia perlu melihat apakah kotak sarangnya akan dapat menjadi tempat yang nyaman. Selanjutnya ia akan masuk ke dalam kotak sarang dan memperhatikan dengan seksama untuk waktu yang lama, kemudian akan berkicau dengan pelan seolah memanggil induk betina dan menyuruhnya masuk ke dalam kotak sarang.

Apabila induk Jantan meninggalkan kotak sarang, induk betina akan memeriksa kenyamananya, tetapi ia jarang keluar dari kotak sarang sebelum sang Jantan benar-benar membangun sarangnya.
 
Idealnya, burung harus membangun sarangnya beberapa hari setelah saling mengenal. Biasanya induk Jantan yang mulai menyusun sarang. Setelah separuh dari sarang terkumpul, induk betina akan segera keluar sarang dan mulai menyelesaikan sarangnya.

Biasanya, setelah 2 hari berlangsung sarang akan selesai dan induk betina akan beristirahat. Setelah kurang lebih 4 hari, induk betina akan mulai bertelur. Dalam sehari ia akan bertelur sekali. Jumlah telur yang akan dierami 3 dampai 4 telur. Bahkan ada yang sampai berjumlah 5 telur. Saat jumlah telur sudah mencapai 3 butir, induk betina biasanya sudah mulai melakukan pengeraman.